Refleksi Bersama: Mengapa Sekolah Harus Benar-benar Menjadi Kawasan Tanpa Rokok
- Sabtu, 09 Mei 2026
- SMAINK SMA Islam Nurul Khalil Bondowoso
- Agus Widodo FN. S.Pd.
- 0 komentar
Di Indonesia, rokok bukan sekadar barang dagangan. Kehadirannya telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang begitu melekat dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari warung kopi, acara hajatan, hingga obrolan santai di tempat berkumpul, rokok sering dianggap sebagai pelengkap keakraban. Seolah suasana terasa kurang lengkap tanpa kehadirannya.
Sayangnya, kedekatan masyarakat dengan rokok yang begitu permisif justru melahirkan dampak yang memprihatinkan. Kebiasaan tersebut perlahan menembus batas hingga masuk ke lingkungan sekolah, bahkan sampai ke ruang kelas maupun ruang rapat guru.
Normalisasi yang Memudarkan Batasan
Fenomena guru merokok di sekolah sebenarnya merupakan gambaran dari pola pikir yang sudah lama tertanam dalam masyarakat. Ada anggapan bahwa kesalahan yang dilakukan banyak orang lama-kelamaan akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika seorang pendidik merokok di area sekolah, ia merasa tindakannya "aman". Hal ini terjadi bukan hanya karena tidak ada yang menegur, tetapi juga karena norma sosial di sekitarnya seakan membenarkan perilaku tersebut. Di negara dengan jumlah perokok yang sangat tinggi, merokok sering dipersepsikan sebagai hal biasa dalam interaksi sosial, bukan sebagai tindakan yang pantas dipermasalahkan.
Akibatnya, aturan seperti Kawasan Tanpa Rokok (KTR) kerap hanya menjadi tulisan formal di atas kertas tanpa penerapan yang tegas. Budaya pergaulan justru dianggap lebih kuat daripada aturan yang ada. Jika di rumah dan masyarakat merokok dianggap lumrah, maka sebagian guru merasa kebiasaan itu tidak masalah dibawa ke sekolah. Inilah bentuk nyata dari normalisasi: batas antara sekolah sebagai ruang publik yang harus dijaga, dengan tempat santai atau tongkrongan, menjadi semakin kabur.
Dilema "Ewuh Pakewuh" dan Rasa Sungkan
Lalu mengapa fenomena ini sering dibiarkan? Mengapa banyak rekan kerja memilih diam ketika asap rokok muncul dalam rapat resmi? Mengapa perilaku merokok di dekat siswa sering dibiarkan begitu saja?
Salah satu penyebab utamanya adalah budaya rasa sungkan (ewuh pakewuh) dan rasa takut terhadap penolakan sosial. Dalam lingkungan yang sudah terbiasa dengan rokok, orang yang menegur sering dianggap terlalu mengatur, terlalu kaku, atau dianggap merusak suasana.
Akhirnya, demi menjaga hubungan baik antar rekan, banyak pendidik memilih membiarkan pelanggaran etika terjadi. Menegur teman yang merokok di sekolah dianggap lebih tidak nyaman daripada memikirkan dampaknya bagi kesehatan siswa maupun contoh buruk yang ditunjukkan kepada mereka. Di sinilah makna silaturahmi mulai bergeser. Hubungan baik tidak lagi dimaknai sebagai saling mengingatkan dalam kebaikan, tetapi justru menjadi alasan untuk saling membiarkan kesalahan demi kenyamanan bersama.
Ketika Jumlah Menjadi Ukuran Pembenaran
Bahaya terbesar muncul ketika jumlah pelaku dijadikan ukuran benar atau salah. Karena banyak orang merokok, larangan merokok di sekolah akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan atau bertentangan dengan kebiasaan umum.
Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya bagi pendidikan karakter. Jika pendidik meyakini bahwa suatu tindakan menjadi benar hanya karena dilakukan banyak orang, maka tanpa sadar mereka sedang mengajarkan kepada siswa bahwa aturan hanya berlaku ketika didukung mayoritas, bukan karena aturan itu memang benar dan harus dihormati.
Menegakkan Teladan
Kebiasaan guru merokok di sekolah merupakan cerminan dari masyarakat yang terlalu memaklumi perilaku yang merugikan.
Selama merokok di ruang rapat, halaman sekolah, bahkan di dalam kelas masih dianggap biasa demi menjaga hubungan sosial, selama itu pula sekolah belum mampu menjadi tempat yang benar-benar mendidik peradaban. Perubahan tidak akan terjadi apabila rasa sungkan terhadap rekan kerja masih ditempatkan di atas hak siswa untuk memperoleh lingkungan yang sehat dan teladan yang baik.
Kebenaran tetap harus ditegakkan, sekalipun harus berdiri sendiri di tengah banyaknya orang yang memilih membiarkan kesalahan. Mari kita jadikan sekolah kita Kawasan Tanpa Rokok yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Bangun Karakter dan Apresiasi Prestasi: Amanat Penuh Makna Kepala SMA Islam Nurul Khalil pada Upacara Senin Pagi
Senin, 13 April 2026
Menjaga Denyut Nadi Evaluasi: Kunjungan Pengawas Pendamping Warnai kegiatan PSAJ di SMA Islam Nurul Khalil
Jum'at, 10 April 2026
Borong 7 Piala dan Dinobatkan Sebagai Juara Umum Olimpiade Prestasi 2026 MKKS Swasta Situbondo - Bondowoso dan Ruangguru
Rabu, 01 April 2026
SPMB 2026/2027 Resmi Dibuka, Pondok Pesantren Nurul Khalil Siap Terima Santri Baru
Selasa, 31 Maret 2026
Peringati Hari Pers Nasional, SMA Islam Nurul Khalil Dorong Siswa Jadi Generasi Kritis dan Literat
Senin, 09 Februari 2026
Tingkatkan Kualitas Layanan Siswa, Guru BK SMA Islam Nurul Khalil Ikuti Workshop
Kamis, 05 Februari 2026
Loncatan Digital SMA Islam Nurul Khalil: Migrasi ke Domain .sch.id sebagai Simbol Modernisasi Pendidikan
Minggu, 01 Februari 2026
SMA Islam Nurul Khalil Resmi Luncurkan Halaman Facebook sebagai Pusat Informasi Digital
Minggu, 01 Februari 2026